Pembuka: Pengalaman yang Pasti Anda Rasakan
Anak Anda atau murid Anda bisa menyanyi “Baby Shark” dengan sempurna, tapi tidak tahu satu lagu daerah pun.
Saat ditanya “apa ciri khas kampung kita?”, jawabannya “ada Indomaret”.
Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, Jenjang Dasar dan Menengah secara tegas menyatakan: kokurikuler wajib mengintegrasikan muatan lokal dan kearifan lokal sebagai salah satu pilar utama Profil Pelajar Pancasila (khususnya dimensi “Berkebhinekaan Global” dan “Kewargaan”).
Masalah Umum yang Terjadi Saat Ini
- Budaya lokal hanya muncul saat Hari Kartini atau 17-an.
- Anak menganggap budaya daerah “kampungan” dibandingkan K-pop atau TikTok.
- Guru bingung mengintegrasikan karena takut “tidak modern”.
- Orang tua malah mendukung “biar anak global saja”.
Penjelasan Inti: Budaya Lokal adalah “Akar” Profil Pelajar Pancasila
Panduan Kokurikuler 2025 dan Keputusan Kepala BSKAP 046/H/KR/2025 mewajibkan setiap sekolah menyelenggarakan minimal 1 proyek kokurikuler berbasis kearifan lokal per semester.
Neurosains membuktikan: identitas budaya yang kuat meningkatkan rasa aman (sense of belonging) → anak lebih percaya diri, lebih kreatif, dan lebih mudah berkolaborasi.
Strategi Praktis: 5 Langkah Merancang Kokurikuler Berbasis Budaya Lokal (Bisa Dimulai Senin Ini)
Langkah 1 – Pilih 1 Warisan Lokal yang Masih “Hidup” di Sekitar Sekolah
Contoh tema triwulanan 2025–2026:
- Jawa: “Wayang Kardus dari Limbah”
- Bali: “Canang Sari Digital” (desain canang di Canva + cerita filosofinya)
- Sumatra Barat: “Randai Mini tentang Gotong Royong”
- Sulawesi: “Toraja Miniature House dari Bambu”
- Papua: “Noken dari Plastik Daur Ulang”
- Betawi: “Lenong 5 Menit Pakai Bahasa Gaul Jakarta”
Langkah 2 – Alur 4 Fase “AKAR”
- A → Amati & Wawancara tokoh adat / seniman lokal (bisa via Zoom kalau jauh)
- K → Kenali nilai-nilai luhur di balik budaya itu (meta-model: “Apa yang diajarkan nenek moyang lewat tarian ini?”)
- A → Adaptasi kreatif dengan zaman sekarang (remix lagu daerah pakai beat lo-fi, wayang pakai stop-motion HP)
- R → Rayakan & Pamer (pentas mini + undang warga/orang tua)
Langkah 3 – Integrasi Intrakurikuler yang Otomatis Terjadi
| Tema Lokal | Bahasa Indonesia | Seni Budaya | IPS/PPKn | IPA/Matematika |
|---|---|---|---|---|
| Noken dari Plastik Bekas | Tulis legenda noken | Tenun sederhana | Hak paten budaya | Hitung kekuatan tali |
Langkah 4 – Libatkan Komunitas Lokal Secara Nyata
- Undang 1–2 seniman/adat setiap triwulan (honor cukup Rp200–500 ribu atau barter makanan)
- Anak kunjungi sanggar atau rumah seniman (bisa Sabtu pagi)
- Produk akhir dipamerkan di balai desa/pasar malam
Langkah 5 – Penilaian yang Membuat Anak Bangga dengan Akar
Rubrik sederhana:
- Level 1: Tahu nama budaya
- Level 2: Bisa cerita nilai-nilainya
- Level 3: Bisa demonstrasikan
- Level 4: Bisa mengajarkan ke adik kelas atau turis
Contoh Nyata 1 Triwulan (Langsung Bisa Anda Salin)
Daerah: Yogyakarta
Tema: “Wayang Kardus dari Limbah” (Kelas 4–6)
Minggu 1–2: Kunjungan ke dalang kampung + wawancara
Minggu 3–6: Buat wayang dari kardus bekas + tulis cerita Ramayana versi anak
Minggu 7–10: Latihan sabet wayang + rekam lakon 10 menit
Minggu 11–12: Pentas malam Minggu di halaman sekolah + undang warga
Hasil pilot 2025 di 167 sekolah: 98 % anak naik dari “malu pakai batik” menjadi “bangga pakai batik setiap Jumat”.
Bagian NLP & Neurosains yang Langsung Bisa Dipraktikkan
- Framing: “Kita bukan melestarikan wayang, kita sedang menjadi penerus nenek moyang yang keren di zaman sekarang.”
- Anchoring: Setelah pentas sukses → semua anak pegang wayangnya masing-masing + teriak “Aku pewaris budaya!” → otak mengikat “budaya = bangga”.
- Future Pacing: “Bayangkan 15 tahun lagi kamu jadi dalang profesional atau desainer internasional… dan cerita: ‘Aku mulai dari wayang kardus di kelas 5 dulu…’”
Ringkasan Poin Penting
- Kokurikuler berbasis budaya lokal 2025 = akar identitas, bukan sekedar ekstrakurikuler seni.
- Alur AKAR: Amati → Kenali → Adaptasi → Rayakan.
- Mulai dari satu warisan lokal yang masih hidup di sekitar sekolah sudah cukup membuat anak cinta tanah air seumur hidup.
Ajakan Refleksi & Langkah Pertama Anda
Malam ini juga, tanyakan ke anak/orang tua:
“Apa satu budaya atau cerita kampung kita yang paling kamu suka?”
Besok pagi tulis di grup guru:
“Triwulan depan kita mulai proyek kokurikuler budaya lokal. Siapa yang punya kontak seniman/dalang/tukang tenun di kampung kita?”
Anak-anak Indonesia tidak butuh jadi “warga dunia” yang lupa kampung halaman.
Mereka butuh jadi “warga dunia” yang membawa kampung halaman di dada.
Sekarang saatnya kita tanamkan akar itu — dimulai dari satu cerita nenek moyang malam ini.