10 Jebakan yang Masih Sering Terjadi – dan Cara Keluarnya Sekarang Juga

Kita semua pernah melakukannya.
Dengan niat terbaik, kita justru membuat anak takut salah, orang tua bingung, dan diri sendiri kelelahan.
Padahal Permendikdasmen No. 13/2025, Panduan Pembelajaran & Asesmen 2024, serta Panduan Kokurikuler 2025 sudah berulang kali mengingatkan: asesmen harus mendukung pertumbuhan, bukan menghambatnya.

Berikut 10 kesalahan paling umum yang masih sering kita jumpai – beserta solusi satu langkah yang langsung bisa dipraktikkan besok.

NoKesalahan UmumDampak pada AnakSolusi Langsung (1 Langkah Besok Pagi)
1Menilai hanya di akhir semester (summative only)Anak tidak tahu kekurangannya sampai terlambatMulai besok, beri 1 umpan balik lisan setiap hari
2Pakai angka 1–100 atau huruf A–E sajaAnak menganggap dirinya “78” atau “C”Ganti dengan rubrik 🌱🌿🌳 mulai tugas pertama
3Membandingkan anak dengan teman lainMenghancurkan rasa mampu & gotong royongGanti “Lihat temanmu” → “Lihat kemarin kamu sudah sejauh ini”
4Umpan balik hanya “Bagus” atau “Kurang”Anak tidak tahu apa yang harus diperbaikiPakai “Two Stars and a Wish” setiap koreksi apa pun
5Mengoreksi semua kesalahan sekaligusAnak kewalahan & menyerahPilih maksimal 2 poin perbaikan per tugas
6Tidak melibatkan anak dalam penilaianAnak merasa “dinilai”, bukan “bertumbuh”Mulai besok, anak centang sendiri rubrik 🌱🌿🌳 sebelum diserahkan
7Menilai produk akhir saja, lupa prosesAnak yang berusaha keras tetap dapat nilai rendahFoto/video proses + refleksi jadi 60 % nilai
8Memberi nilai rendah tanpa langkah berikutnyaAnak merasa gagal totalSetiap nilai rendah wajib disertai “Langkah kecil besok: …”
9Laporan ke orang tua hanya angka/raporOrang tua panik, anak maluGanti dengan laporan humanis 3–4 kalimat + foto proses
10Guru menilai sendirian tanpa bukti otentikAnak merasa tidak adilMulai minggu ini, portofolio digital (foto, post-it, rekaman) wajib ada

Contoh Nyata yang Sering Terjadi (dan Cara Mengubahnya)

Sebelum:
Bu Guru mengembalikan ulangan Matematika dengan coretan merah di mana-mana + nilai 65.
Anak pulang menangis, orang tua marah, anak takut matematika seumur hidup.

Sesudah (pakai prinsip 2025):
Bu Guru menempel stiker 😊 di kertas yang sama, menulis:
“Aku melihat kamu sudah menguasai 7 dari 10 soal cerita — luar biasa!
Dua soal tentang pecahan campuran ini sebenarnya hanya butuh satu trik kecil.
Besok kita latihan bareng 10 menit saja, aku yakin kamu langsung bisa 🌳.
Mama/Papa, Rafa sedang bertumbuh pesat, lho!”

Hasil: anak pulang cerita “Bu Guru bilang aku hampir bisa semua!”

Dampak Neurosains dari 10 Kesalahan Tersebut

  • Membandingkan, angka rendah, coretan merah → kortisol naik → otak “freeze”
  • Umpan balik positif + langkah konkret → dopamin & oksitosin → otak “learn mode”

Ringkasan Satu Kalimat untuk Guru & Orang Tua

Kalau anak pulang sekolah dengan wajah cemas karena nilai,
itu bukan salah anak — itu sinyal kita masih pakai cara lama.

Ajakan Refleksi Malam Ini (hanya 3 menit)

Ambil buku tugas atau ulangan terakhir yang baru Anda kembalikan.
Tanyakan pada diri sendiri tiga pertanyaan ini:

  1. Apakah ada satu kalimat pun yang membuat anak ini tersenyum?
  2. Apakah anak ini tahu persis langkah kecil apa yang harus dilakukan besok?
  3. Kalau saya anak ini, apakah saya akan pulang dengan semangat atau malu?

Besok pagi, perbaiki satu saja dari sepuluh kesalahan di atas.
Satu minggu lagi, Anda akan mendengar anak-anak berkata:
“Bu, aku boleh coba lagi dong? Aku sudah tahu caranya sekarang!”

Karena tugas kita bukan mencari kesalahan,
melainkan menemani mereka menjadi versi terbaik diri mereka setiap hari.

Selamat melepaskan cara lama,
selamat menyambut anak-anak yang berani bertumbuh. 🌱❤️