Sebagai guru atau orang tua, pernahkah Anda melihat anak tiba-tiba diam saat menerima rapor berisi angka merah? Atau anak yang biasanya ceria jadi takut salah saat mengerjakan tugas karena “nanti dinilai Bu Guru”?
Rasa cemas itu nyata, dan kita semua pernah merasakannya — entah sebagai anak dulu, atau melihat anak kita sekarang.
Kabar baiknya: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025, Panduan Pembelajaran & Asesmen 2024, serta Panduan STEM Nasional menegaskan bahwa asesmen bukan untuk menakuti, melainkan untuk membantu anak tumbuh. Asesmen formatif adalah jantung dari pendekatan baru ini: menilai sambil mendampingi, bukan menunggu akhir semester untuk “menghukum”.
Masalah Umum yang Masih Kita Jumpai
- Anak takut salah karena nilai dianggap cermin harga diri
- Guru kehabisan waktu sehingga umpan balik hanya berupa “Bagus” atau “Kurang”
- Orang”
- Orang tua bingung: “Kalau tidak pakai angka, bagaimana tahu anak saya maju atau tidak?”
- Anak merasa “selalu dinilai”, bukan “selalu dibantu”
Padahal, neurosains belajar menunjukkan bahwa ancaman (tekanan nilai) memicu hormon kortisol yang justru menutup area otak untuk belajar baru (prefrontal cortex). Sebaliknya, rasa aman dan dukungan melepaskan dopamin dan oksitosin — bahan bakar utama motivasi intrinsik.
Filosofi Asesmen Formatif sesuai Kebijakan Terbaru
Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2024 (hal. 27–34) menyatakan dengan tegas:
“Asesmen untuk pembelajaran (assessment for learning) bertujuan mengidentifikasi kebutuhan belajar murid secara berkelanjutan, memberikan umpan balik yang membangun, serta merancang intervensi yang tepat.”
Ini selaras dengan 8 dimensi Profil Pelajar Pancasila, khususnya:
- Beriman, Bertakwa, Berakhlak Mulia → merasa dicintai apa adanya
- Gotong Royong & Mandiri → merasa kompeten tanpa dibanding-bandingkan
- Bernalar Kritis & Kreatif → berani mencoba karena salah bukan akhir
Strategi Praktis: 3 Langkah Menilai Tanpa Tekanan
1. Untuk Guru di Kelas (Intrakurikuler & Kokurikuler)
a. Gunakan “Two Stars and a Wish” (NLP Framing + Reframing)
- Dua bintang = dua kekuatan yang dilihat
- Satu harapan = satu langkah berikutnya
Contoh umpan balik lisan:
“Aku melihat kamu sudah bisa membuat jembatan yang kokoh dari 30 batang es krim (bintang 1). Cara kamu membagi tugas dengan teman juga sangat rapi (bintang 2). Kalau kita tambahkan penguat di bagian tengah, jembatanmu pasti bisa menahan beban 2 kg. Mau coba minggu depan?”
b. Rubrik Sederhana 3 Tingkat (bukan angka 1–100)
| Tingkat | Deskripsi (contoh projek STEM “Membuat Pesawat Kertas Terjauh”) |
|---|---|
| 🌱 Baru Tumbuh | Pesawat bisa terbang, tapi jarak < 3 meter |
| 🌿 Sedang Berkembang | Terbang 3–6 meter, bentuk sudah simetris |
| 🌳 Sudah Berbunga | Terbang > 6 meter, ada inovasi sayap atau penyeimbang |
Anak memilih sendiri tingkatnya + alasan → refleksi mandiri terpicu.
c. Teknik Observasi + Bukti Belajar
- Catat di “Buku Catatan Ajaib Guru” (bukan buku nilai):
Tanggal | Nama | Apa yang kulihat | Apa yang kuharapkan selanjutnya - Foto/video proses (portofolio digital) → bukti otentik tanpa tekanan ujian
2. Untuk Orang Tua di Rumah
Gunakan teknik Future Pacing (NLP) + Anchoring positif:
Setiap malam minggu, lakukan “3 Menit Cerita Hebat”:
- “Hari ini, bagian yang paling membuat Mama bangga adalah… (ceritakan 1 momen spesifik)”
- “Kalau besok kamu mau mencoba lagi, kira-kira apa yang akan kamu lakukan berbeda?”
- Peluk + ucapan “Mama selalu sayang kamu, apapun hasilnya nanti.”
Anak akan mengaitkan (anchor) pelukan dengan rasa aman saat belajar.
3. Contoh Laporan Humanis (bukan rapor angka)
Laporan Tengah Semester – Kelas 4 SD
Nama: Alya Putri
Periode: Agustus–November 2025
Yang sudah membuat Bu Guru tersenyum lebar 😊
- Alya berhasil memimpin kelompok saat projek “Membuat Bendungan Mini” dan semua teman merasa didengar (dimensi Gotong Royong & Kepemimpinan).
- Dalam matematika, Alya sudah sangat lancar mengubah pecahan ke desimal dan suka menjelaskan ke teman (Bernalar Kritis).
Langkah kecil berikutnya yang akan kita coba bersama
- Saat menulis cerita, Alya kadang lupa tanda baca. Minggu depan kita latihan “berbicara dengan tanda baca” pakai suara lucu agar lebih seru.
- Dalam projek STEM, Alya ingin bendungannya tahan banjir lebih lama. Kita akan tambah percobaan dengan tanah liat.
Catatan dari Alya sendiri
“Saya senang sekali waktu bendungan kami berhasil menahan air 3 menit! Besok saya mau coba pakai batu kecil supaya lebih kuat.”
Tanda tangan orang tua & guru
Kita berjalan bersama, ya!
Integrasi Neurosains + Spiritual-Modern
- Saat anak merasa “aku mampu” (self-efficacy), area amygdala tenang → hippocampus (ingatan) bekerja optimal.
- Rasa syukur dan ikhlas (spiritual) + growth mindset (psikologi modern) menciptakan lingkaran positif: anak berani mencoba → berhasil kecil → dopamin → berani mencoba lagi.
Ringkasan Poin Penting
- Asesmen formatif = mendampingi, bukan menghakimi
- Umpan balik empatik pakai “Two Stars and a Wish” + rubrik 3 tingkat
- Bukti belajar: observasi, foto proses, refleksi anak sendiri
- Laporan humanis menggantikan angka yang menakutkan
- Orang tua & guru menjadi “pelatih”, bukan “hakim”
Ajakan Refleksi
Coba malam ini, tanyakan pada anak atau murid Anda:
“Kalau tidak ada nilai 1–100, apa yang ingin kamu coba lakukan besok di sekolah/rumah yang selama ini takut kamu coba?”
Jawaban mereka akan mengejutkan sekaligus menghangatkan hati.
Karena sesungguhnya, ketika anak tidak takut salah, mereka justru akan berlari lebih kencang menuju potensi terbaiknya.
Mari kita wujudkan generasi yang berani bermimpi, karena mereka tahu:
“Di sini aku selalu didengar, selalu dibantu, dan selalu dicintai — apa pun hasilnya.”
Salam hangat dari sesama pendamping belajar,
Untuk anak-anak kita yang luar biasa. 🌱